TAFSIR BIL ‘AQLI DALAM WACANA ILMIAH

By: iainkampusiii

Apr 16 2010

Kategori: Tafsir Tarbawi

Tinggalkan komentar

Ibnu Rawandhy N. Hula, MA
A. Latar Belakang
Seorang anak usia taman kanak-kanak yang dibawa berjalan-jalan ke kebun binatang akan mengajukan berbagai macam pertanyaan. Pertanyaannya sering sekali mengejutkan karena tidak diduga semula. Ia mungkin bertanya mengapa gajah berbelalai dan mengapa burung kakinya hanya dua. Prilaku seperti ini adalah khas menjadi naluri untuk manusia, yang tampak utamanya ada di dalam otak.
Naluri manusia ingin mengetahui ini juga yang ingin menemukan penjelasan tentang hal-hal baru yang diamatinya. Dari sini pulalah seorang bayi atau anak-anak sudah mulai berusaha untuk mengembangkan daya pikir atau nalarnya guna memahami sesuatu. Untuk itu upaya memahami bagaimana bayi yang baru lahir dengan kemampuan fisik yang sangat terbatas, diiringi daya memahami yang sangat lemah, dapat berkembang menjadi manusia cerdas yang mampu memecahkan masalah adalah suatu pokok bahasan yang menarik.
Demikian pula halnya, bagi seorang manusia dewasa yang menggunakan akal dan nalarnya untuk memahami suatu masalah, maka cara-cara mengembangkan pikiran itu tidak mustahil sejalan pula dengan caranya dahulu mengembangkan kemampuan berpikirannya dari seorang bayi yang lemah menjadi dewasa yang cerdas. Dengan kata lain bahwa manusia dewasa lebih giat menggunakan kemampuan berpikirnya untuk memahami dan menyelesaikan suatu masalah yang dihadapinya. Optimalisasi kemampuan untuk memahami yang bertolak dari rasa ingin tahu manusia inilah yang menjadi cikal-bakal sains. Ini berarti lahirnya sains atau pengetahuan tergantung pada kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan potensi pikir dan rasa ingin tahunya.
Manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi pikir atau berpikir yang dibawanya sejak lahir, mengharuskannya untuk selalu melakukan kegiatan berpikir terus menerus. Dengan berpikir yang dimaksudkan sebagai kegiatan akal adalah untuk mengolah pengetahuan yang telah kita terima melalui panca indra dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran.
Jadi, dengan istilah “berpikir” ditujukan suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan terarah. Berpikir juga dapat berarti kegiatan kenyataan yang menggerakkan pikir. Kenyataan yang memang inisiatif. Dengan kata lain bahwa berpikir adalah bicara dengan diri sendiri di dalam batin. Untuk itu, mempertimbangkan, merenungkan, menganalisa dan menarik kesimpulan kegiatan berpikir.
Untuk menentukan aturan-aturan berpikir yang tepat dan ilmiah, diperlukan unsur-unsur pemikiran manusia. Unsur tersebut senantiasa berhubungan dengan sarana sebagai alat mengungkapkan pikiran, pembudayaan atau pembiasaan berpikir yang ilmiah maupun proses berpikir itu sendiri yang sudah pasti tidak akan keluar dari hukum logika berpikir yang ilmiah.
B. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari kerangka pikir penulis kemukakan sebelumnya bahwa berpikir adalah suatu kerja akal yang di dalamnya membutuhkan sarana, pembudayaan dan proses berpikir yang ilmiah, maka dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tiga komponen tersebut dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Mengapa berpikir itu membutuhkan sarana?
2. Bagaimana bentuk pembudayaan dan proses berpikir ilmiah?
C. Tujuan dan Kegunaan
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan kerangka pengetahuan bagi manusia, khususnya para pemikir muda, dalam mengemukakan jalan pikirannya dengan baik dani benar. Ukuran baik dan benar itu dapat dilihat pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan sarana berpikir dan terbiasa dalam mengaktualisasikan pikirannya yang sesuai aturan-aturan berpikir yang benar. Dengan demikian mereka dapat dikategorikan sebagai pemikir.

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A. Sarana Berpikir Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah, maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut. Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang membantu kita dapat mencapai tujuan tertentu atau dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Dengan hal ini menurut Jujun S. Suriasumantri, bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan: Pertama, sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedang tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang menungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Dengan bahasa seseorang dapat mengungkapkan pikiran-pikirannya yang benar dan tepat terhadap lawan berpikirnya.
Selanjutnya, jika ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.
B. Pembudayaan Berpikir Ilmiah
“Pembudayaan” berasal dari kata “budaya” yang berarti pikiran, akal budi, membudayakan, memelihara dan sebagainya supaya menjadi cerdas (maju, beradab). Kata pembudayaan merupakan gabungan imbuhan pe-an dengan variasinya terhadap kata “budaya” . Maksudnya kata-kata bentukan pe an dengan variasinya akan membentuk kata-kata abstrak , sehingga kata pembudayaan bermakna membudaya, menjadikan kebiasaan atau pembiasaan.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa pembudayaan berpikir ilmiah dimaksudkan sebagai suatu proses pembiasaan seseorang untuk berpikir secara wajar, tepat dan benar sehingga menjadi watak atau karakter baginya. Adapun pembudayaan berpikir ilmiah dapat dilakukan melalui beberapa langkah sebagai berikut:
1. Melalui pemaksimalan penguasaan dan penerapan komponen sarana berpikir ilmiah sebagian atau seluruh komponennya dalam setiap proses berpikir ilmiah. Apabila seluruh sarana berpikir ilmiah, sebagaiman dikemukakan sebelumnya, ditekuni secara mandalam dengan berbagai bentuk latihan dan penerapan, maka akan dapat meningkatkan pola berpikir ilmiah.
2. Melalui sikap-sikap ilmiah yaitu sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap ilmuan dalam melakukan tugas-tuganya untuk mempelajari, meneruskan, menolak atau menerima serta mengubah atau menambah suatu ilmu. Sikap ilmiah ini hanya bisa terwujud apabila diterapkan dalam setiap proses-proses ilmiah yang dilakukan seseorang.
Harsajo, sebagaimana dikutip oleh Endang Saefuddin Anshari, mengemukakan enam macam sikap ilmiah yang perlu dipatuhi dalam pembudayaan berpikir ilmiah, yaitu:
1. Obyektifitas
Dalam suatu peninjauan yang dipentingkan adalah sikap obyektif walaupun tidak mungkin mendapatkan obyektifitas yang absolut, oleh karena ilmu itu sendiri merupakan hasil budaya.
2. Sikap serba relatif
Ilmu tidak bermaksud untuk mencari kebenaran mutlak. Ilmu mendasarkan kebenaran ilmiahnya atas kebenaran postulat yang secara apriori telah diterima sebagai suatu kebenaran bahkan teori-teori dalam ilmu sering digunakan oleh teori-teori lain.
3. Sikap skeptis
Ini adalah sikap untuk selalu ragu-ragu terhadap pernyataan yang belum cukup kuat dasar pembuktiannya guna memperoleh kebenaran.
4. Kesabaran intelektual
Sanggup manahan diri dan kuat untuk tidak menyerah kepada tekanan agar dinyatakan suatu pendirian ilmiah karena memang belum selesai hasil dari penelitian adalah sikap utama seorang ilmuan.
5. Kesederhanaan
Dalam hal ini adalah kesederhanaan berpikir dan dalam cara menyatakan dan pembuktiannya
6. Sifat tidak memihak
Ini adalah sikap netralitas dan tegas terhadap apa yang dianggap benar dan menyatakan apa dianggap salah. Hal disebabkan karena ilmu mempunyai tugas untuk mengemukakan apa yang salah dan apa yang benar secara relatif.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pembudayaan berpikir ilmiah adalah sebuah proses pembiasaan berpikir bagi seseorang yang kemudian melahirkan perilaku baik sebagai cerminan seorang pemikir yang bertanggung jawab dan punya komitmen moral yang tinggi.

C. Beberapa Proses Berpikir Ilmiah
Berpikir sebagai upaya untuk menghantarkan sikap ingin tahu menuju pengetahuan yang tepat. Untuk mencapai maksud tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1) alasan yang diajukan padat dan kuat, (b) kenyataan yang dikemukakan benar, dan (c) jalan yang dilalui tepat. Konsep berpikir tepat, lurus dan teratur inilah yang dikaji dalam ilmu logika.
Secara umum berpikir adalah perkembangan idea dan konsep. Sedang pemikiran keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Artinya suatu cara berpikir yang berdisiplin dan diarahkan kepada ilmu pengetahuan. Seseorang yang berpikir sungguh-sungguh tidak akan membiarkan idea dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, tetapi diarahkannya pada tujuan tertentu, yaitu ilmu pengetahuan.
Untuk menyederhanakan hal-hal yang rumit dan kompleks dalam proses berpikir ilmiah, maka dapat dikatakan bahwa proses berpikir manusia dalam garis besarnya dapat dibedakan atas meneliti fenomena-fenomena secara individual untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang umum, atau mempergunakan kesimpulan-kesimpulan yang umum untuk menyimpulkan sesuatu yang terperinci. Cara-cara itu masing-masing disebut dengan induktif dan deduktif.
1. Induksi
Proses perpikir induktif adalah pengambilan keputusan yang dimulai dari pernyataan atau fakta-fakta khusus menuju pada kesimpulan yang bersifat umum. Dengan kata lain induksi merupakan cara berpikir yang berangkat dari hal-hal atau kasus-kasus yang bersifat khusus atau individual, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum. Contoh cara berpikir induktif adalah:
– Kambing, gajah, singa, kucing dan ayam punya mata.
– Kesimpulan: Semua hewan punya mata.
Proses berpikir induktif dapat dibedakan lagi atas beberapa variasi, di antaranya adalah generalisasi, analogi dan hubungan kausal. Untuk lebih jelasnya dapat penulis kemukakan sebagai berikut:
a. Generalisasi
Generalisasi merupakan proses berpikir yang berangkat dari sejumlah fenomena individual untuk menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum yang menyangkut semua fenomena tadi. Contoh berpikir generalisasi adalah: Seorang mahasiswa mengikuti ujian dosen B hanya mempelajari materi yang diberikan di ruang kuliah, dan ternyata ia lulus. Namun tiga kali kesempatan ujian berikutnya dengan hanya mempelajari materi yang diberikan di ruang kuliah tidak sekalipun ia berhasil lulus. Dengan kegagalan tiga kali berturut-turut ia sudah dapat membuat generalisasi induktif; Bahwa saya tidak dapat lulus ujian dosen B apabila saya hanya mempelajari bahan yang diberikan di ruang kuliah saja.
b. Analogi
Analogi secara bahasa artinya persesuaian. Adapun secara istilah, analogi adalah kesimpulan dengan cara menggunakan apa yang diusahakan untuk dibuktikan dengan hal yang serupa, namun lebih dikenal. Disini kesimpulan dilakukan secara tidak langsung, namun dibuat semacam penghubung yang mengantarkan ke arah kesimpulan yang mempunyai kesamaan dengan apa yang dibuktikan.
c. Hubungan Kausal
Semua peristiwa mempunyai sebab yang mungkin dapat diketahui bila manusia menyelidikinya dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk melakukan penyelidikan itu. Memang kadang-kadang hubungan antara sebab dan akibat tertentu tidak mudah diketahui, tetapi bukan berarti bahwa apa yang dicatat sebagai akibat tidak mempunyai sebab sama sekali.
2. Deduksi
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang berlawanan dengan penalaran induktif. Deduktif adalah penalaran atau cara berpikir yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Jadi, deduksi itu merupakan suatu proses berpikir yang bertolak dari suatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan.
Penarikan kesimpulan deduktif biasanya memadai pola berpikir yang disebut syllogisme. Syllogisme dapat berlangsung melalui beberapa bentuk, yang diantaranya syllogisme kategorial dan syllogisme hipotesis.
a. Syllogisme Kategorial
Syllogisme kategorial merupakan struktur suatu deduksi berupa suatu proses logis yang terdiri dari tiga bagian yang masing-masing bagiannya berupa pernytaan kategoris atau pernyataan tanpa syarat. Contohnya sebagai berikut:
– semua buruh adalah manusia (premis mayor)
– semua tukang batu adalah buruh (premis minor)
– Jadi, semua tukang batu adalah manusia (kesimpulan).
b. Syllogisme Hipotesis
Syllogisme hipotesis adalah syllogisme-syllogisme yang premis mayornya adalah proposisi hipotesis atau proposisi majemuk, dan premis minornya mengakui atau menolak salah satu bagian dari premis mayor. Premisnya berupa pernyataan bersyarat (kalau … maka…). Contohnya:
– Kalau turun hujan, maka jalan akan basah (premis mayor)
– Hari ini turun hujan (premis minor)
– Jadi, jalan hari ini basah (kesimpulan).
Dengan demikian berpikir deduktif memungkinkan seseorang mengatur premis-premis sedemikian rupa, mencocokkan bukti-bukti dengan seperangkat ilmu yang sudah sedemikian lama diketahui dan dimiliki, dan dari situlah seseorang ilmuan mengambil konklusi secara logika.
Sementara itu, berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah terkumpul sebelumnya. Secara sistematik dan komulatif, pengetahuan ilmiah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Olehnya itu berpikir deduktif termasuk bagian metode ilmiah.

III
KESIMPULAN

1. Dalam berpikir ilmiah seseorang sangat membutuhkan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika, sebagai alat untuk menyampaikan isi pikirannya secara benar dan tepat. Dengan mengetahui sarana berpikir ilmiah dapat membantu meningkatkan produk-produk berpikir ilmiah secara tepat dan berkualitas.
2. Pembudayaan berpikir ilmiah sebagai sebuah proses pembentukan kepribadian dan watak para pemikir hingga terbiasa melakukan kerja-kerja akal yang rasional dan mandiri. Hal ini harus dilakukan secara terus-menerus sebagai proses latihan dan pembiasaan. Pembudayaan berpikir dapat mendekatkan pada kebenaran dan fakta yang direncanakan sebelumnya.
3. Sedangkan proses berpikir ilmiah sebagai langkah selanjutnya, pada dasarnya dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu induksi dan deduksi. Namun dalam prakteknya iduksi dan deduksi saling mendukung satu sama lainnya sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

KEPUSTAKAAN

Ansori, Endang Saefuddin; Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya, PT Bina Ilmu, 1987.
Badudu, Yus; Pelik-Pelik Berpikir Ilmiah, Bandung, Pustaka Prima, 1981.
Bakri, Hasbullah: Sistematika Filsafat, Jakarta, Wijaya, 1981.
Cangara, Hafied: Pengantar Ilmu Komunikasi, Cet. II, Jakarta Raja Grafindo Persada, 2000.
Kamaruddin; Kamus Istilah Skripsi dan Tesis, Bandung, Angkasa, t.th.
Kerap, Goys; Argumentasi dan Narasi, Jakarta, Gramedia, 1985.
Kattsoff, Louis O; Pengantar Filsafat, Diterjemahkan oleh Soejono Soemargono, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1992.
Nasution, Andi Hakim; Pengantar ke Filsafat Sains, Cet. I, Bogor, Litera Antar Nusa, 1989.
Poespoprodjo, W dan T. Gilarso; Logika Ilmu Menalar, Cet. IV Bandung, Remaja Karya, 1989.
————–, Logika Scientifika (Pengantar Dialektika dan Ilmu), Bandung, Remaja Karya 1987.
Suriasumantri, Jujun S; Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. X, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1996.
————–, Ilmu dalam Perspektif, Cet. XII, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1995.
Salam, Burhanuddin; Logika Formal (Filsafat Berpikir), Cet. I, Jakarta, Bina Aksara, 1988.
Sudjana, Nana; Tuntutan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung, Sinar Baru, 1991.