Evaluasi Pendidikan

A. Makna Evaluasi

Sudirman N. Dkk. (1991) mengemukakan rumusan bahwa penilaian atau evaluasi (evaluation) berarti suatu tindakan untuk menentukan nilai sesuatu. Bila penilaian (evaluasi) digunakan dalam dunia pendidikan, maka penilaian pendidikan berarti suatu tindakan untuk menentukan segala sesuatu dalam dunia p;endidikan.

Sebagai alat penialaian hasil pencapaian tujuan dalam pengajaran, evaluasi harus dilakukan secara terus menerus . Evaluasi tidak hanya sekedar menentukan angka keberhasilan belajar. Tetapi yang lebih penting adalah sebagai dasar untuk umpan balik (feed back) dari proses interaksi edukatif yang dilaksanakan (Muhamad Ali, 1992; 113).

Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga nilai berdasarkan kriteria tertentu, untuk mendapatkan evaluasi yang meyakinkan dan objektif dimulai dari informasi- informasi kuantitatif dan kualitatif. Instrumennya (alatnya) harus cukup sahih , kukuh, praktis, dan jujur. Data yang dikumpulkan dari pengadministrasian instrumen itu hendaklah diolah dengan tepat digambarakan pemakaiannya (Jahja Qohar Al- Haj, 1985;2.

Dalam kaitan ini ada dua istilah yang hampir sama tetapi berbeda, yaitu “penilaian “ dan “pengukuran”. Pengertian pengukuran terarah pada tindakan atau proses untuk menentukan kuantitas sesuatu, karena itu biasanya diperlukan alat bantu. Sedangkan penilaian atau evaluasi terarah pada penentuan kualitas atau nilai sesuatu.

Walaupun terdapat perbedaan, kedua hal tersebut tak dapat dipisahkan karena berhubungan erat. Pelaksanaan penilaian terlebih dahulu harus didasarkan atas pengukuran- pengukuran. Sebaliknya, pengukuran- pengukuran tidak akan berarti bila tidak dihubungkan dengan penilaian. Misalnya Bidu mendapat skor entah 90 (pengukuran), kemudian berdasarkan kriteria tertentu, maka Bidu mendapat nilai “A” (penilaian). (Sudirman N, dkk, 1991; 241)

Evaluasi tidak boleh dilakuakn dengan sekehendak hti guru, anak didik yang cantik diberikan nilai tinggi dan anak didik yang tidak cantik diberikan nilai yang rendah.  Evaluasi diberikan dengan pertimbangan- pertimbangan yang arif dan bijaksana, sesuai dengan hasil kemajuan belajar yang ditunjukkan oleh anak didik.

Dengan demikian , evaluasi adalah suatu tindakan berdasarkan pertimbangan- pertimbangan yang arif dan bijaksana untuk menentukan nilai sesuatu baik secara kuantitatif maupun secara kualaitatif.

B. Tujuan Evaluasi

Evaluasi adalah suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan. Kegiatan evaluasi dilakuakan dengan sadar oleh guru dengan tujuan memperoleh kepastian mengenai keberhasilan belajar anak didik dan memberikan masukan kepada guru mengenai yang dia lakuakan dalam pengajaran. Dengan kata lain, evaluasi yang dilakukan guru bertujuan untuk mengetahui bahan- bahan pelajaran yang disampaikannya sudah dikuasai atau belum oleh anak didik, dan apakah kegiatan pengajaran yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang dihaarapkan.

Menurut Sudirman N. Dkk. (1991), tujuan penilaian dalam proses belajar mengajar adalah:

  1. Mengambil keputusan tentang hasil belajar.
  2. Memahami anak didik.
  3. Memperbaiki dan mengembankana program pengajaran.

Kemudian menurut Sudirman N. Lagi, pengambilan keputusan tentang hasil belajar merupakan suatu keharusan bagi seorang guru agar dapat mengetahui berhasil tidaknya anak didik dalam proses belajar mengajar. Ketidak berhasilan proses belajar mengajar disebabkan antara lain oleh:

  1. Kemampuan anak didik yang rendah
  2. Kualitas materi pelajaran tidak sesuai dengan tingkat usia anak.
  3. Jumlah bahn pelajaran terlalu banyak, sehingga tidak sesuai dengan waktu yang diberikan.
  4. Komponen proses belajar mengajar yang kurang sesuai dengan tujuan.

Disamping itu, pengambilan keputusan juga diperlukan untuk memahami anak didik dan mengetahui sejauh mana dapat diberikan bantuan terhadap kekurangan- kekurangan anak didik . Evaluasi juga bermaksud memperbaiki dan mengembangkan program pengajaran.

Dengan demikikan tujuan evaluasi adalah untuk memperbaiki cara belajar mengajar, mengadakan perbaikan dan pengayaan bagi anak didik, serta menempatkan anak didik pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya. Tujuan lainnya adalah untuk memperbaiki atau mendalami dan memperluas pelajaran, dan yang terakhir adalah untuk memberitahukan/melaporkan kepada orang tua/wali anak didik mengenai penentuan keanaikan kelas dan enentuan kelulusan anak didik.

C. Fungai Evaluasi

Evaluasi mutlak dilakuakan dan merupakan kewajiban bagi setiap guru. Menurut M. Ngalim Purwanto (1986; 26), dikatakan kewajiban bagi setiap guru, karena pada akhirnya guru harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya atupun kepada anak didik itu sendiri, bagaimana dan sampai di mana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai anak didik tentang materi dan keterampilan- keterampilan mengenai mata ajaran yang tela diberikannya.

Evaluasi tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pengajaran, maka bagi guru mutlak harus mengetahui dan mengenal fungsi evaluasi. Sehingga mudah menerapkannya untuk menilai keberhasilan pengajaran. Untuk itu  pendapat para ahli berikut , patut utnuk diketahui, sebagai berikut:

Jahya Qohar Al – Haj (1985: 3) melihat fungsi evaluasi dari segi anak didik secara individual dan dari segi program pengajaran:

1. Dilihat dari segi anak didik secara individual, evaluasi berfungsi:

  1. Mengetahui tingkat pencapaian anak didik dalam suatu proses belajar mengajar.
  2. Menetapkan keefektifan pengajaran dari rencana kegiatan.
  3. Memberi basis laporan kemajuan anak didik.
  4. Menghilangkan halangan- halangan atau memperbaiki kekeliruan yang terdapat sewaktu praktek.

2. Dilihat dari segi program pengajaran, evaluasi berfungsi;

  1. Memberi dasar pertimbangan kenaikan dan promosi anak didik
  2. .Memberi dasar penyusunan dan penempatan kelompok anak didik yang homogen.
  3. Diagnosis dan remedial pekerjaan anak didik.
  4. Memberi dasar pembimbingan dan penyuluhan.
  5. Dasar pemberian angka dan rapor bagi kemajuan anak didik.
  6. Memotivasi belajar anak didik.
  7. Mengidentifikasi dan mengkaji kelainan anak didik.
  8. Menafsirkan kegiatan sekolah ke dalam masyarakat.
  9. Mengadministrasi sekolah.
  10. Mengembangkan kurikulum.
  11. Mempersiapkan penelitian pendidikan di sekolah.

Jadi , evuasi itu berfungsi memberikan informasi bagi perbaikan mutu pengajaran dan penyusunan program sekolah.

Menurut Nana Sudjana (1991; 111), penilaian yang dilakukan terhadap proses belajar mengajar berfungsi sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional khusus. Dengan fungsi ini dapat diketahui tingkat penguasaan bahan pelajaran yang dikuasai oleh para siswa. Dengan kata lain , dapat diketahui hasil belajar yang dicapi para siswa.
  2. Untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan guru. Dengan fungsi ini guru dapat mengetahui berhasil tidaknya pengajaran. Rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa tidak semata- mata disebabkan oleh kemampuan siswa, tetapi juga bisa disebabkan kurang berhasilnya guru mengajar.

Melalui penilaian, berarti menilai kemampuan guru itu sendiri dan hasilnya dapat dijadikan bahan dalam memperbaiki tindakan mengajar berikutnya.

Berbeda dengan pendapat diatas, Departemen Agama Republik Indonesia (1988/1999; 2), mengatakan, bahwa fungsi penilaian adalah:

  1. Memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki cara belajaar mengajar, mengadakan perbaikan bagi siswa, serta menempatkan pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki  oleh siswa.
  2. Menentukan nilai hasil belajar siswa yang antara lain diperlukan untk pemberian laporan pada orang tua sebagai penentuan kenaikan kelas dan penentuan kelulusan siswa.
  3. Menjadi bahan untuk menyusun laporan dalam rangka penyempurnaan program belajar mengajar yang sedang berlaku.

Selain itu , Wayan Nurkencana, dkk, (1983; 3) juga merumuskan maslah fungsi evaluasi ini. Menurut mereka evaluasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

  1. Untuk mengetahui taraf kesiapan anak didik untuk menempatkan suatu pendidikan tertentu.
  2. Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai proses pendidikan yang telah dilaksanakan.
  3. Untuk mengetahui apakah suatu mata pelajaran yang diajarkan dapat dilanjutkan dengan bahan yang baru atau harus diulang kembali.
  4. Untuk mendapatkan bahan- bahan informasi dalam memberikan bimbingan tentang jenis pendidikan atau jenis jabatan yang cocok untuk anak tersebut.
  5. Untuk mendapatkan bahan- bahan informasi yang menentukan apakah seorang anak dapat dinaikkan ke kelas  yang lebih tinggi atau harus mengulang di kelas semula.
  6. Untuk membandingkan apakah prestasi yang dicapai anak didik sudah sesuai dengan kapasitasnya atau belum.
  7. Untuk menafsirkan apakah anak telaah cukup matang untuk dilepaskan ke dalam masyarakat atau untuk melanjutkan ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
  8. Untuk mengetahui taraf efisiensi metode yang dipergunakan dalam lapangan pendidikan.

D. Objek Evaluasi

Objek atau sasaran ialah sesuatu yang memberikan pedoman kepada seseorang untuk menyeleksi kegiatan yang akan dilakukan.

Itu berarti objek dapat menentukan kecenderungan seseorang dalam tindakan atau perbuatan.

Dalam pendidikan, seperangkat alat evaluasi yang dipunyai mutlak memerlukan objek sebagai sasaran. Tanpa objek, evaluasi tidak akan dapat diperankan. Karena itu , objek evaluasi menempati posisi yang cukup strategis dalam menunjang tugas guru. Sebab dengan mengetahui objek evaluasi, akan memudahkan guru dalam menyusun alat evaluasinya. Menurut Nana Sudjana (1991;113), pada umumnya ada tiga sasaran pokok evaluasi, yaitu:

  1. Segi tingkah laku, artinya segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian, dan keterampilan siswa sebagai akibat dari  proses belajar dan mengajar.
  2. Segi isi pendidikan, artinya penguasaan bahan pelajaran yang diberikan guru dalam proses belajar mengajar.
  3. Segi yang menyangkut proses mengajar dan belajar itu sendiri. Proses belajar dan mengajar perlu penilaian secara objektif dari guru, sebab baik tidaknya proses belajar mengajar akanmenentukan baik tidaknya hasil belajar yang dicapai siswa.

Ketiga sasaran pokok diatas, menurut Nana Sudjana harus dievaluasi secara menyeluruh, artinya jangan hanya menilai segi penguasaan materi semata- mata, tetapi juga harus menilai segi perubahan tingkah laku dan proses mengajar dan belajar itu sendiri secara adil.

Beliau juga dua kali pergi ke negeri Syam untuk berniaga.

Pertama kali bersama pamannya, Abu Thalib. Ketika itu, beliau masih berusia dua belas tahun . yang kedua kali, sebagai utusan Khadijah ra. Membawa dagangannya dengan disertai hamba sahayanya, Maisarah. Waktu itu, usia beliau duapuluh lima tahun. Beliau menyelesaikan tugas berniaga itu dengan baik.

Firman Allah dalam Q.S 67: 15 dijelaskan sebagai berikut:

uqèd “Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 uÚö‘F{$# Zwqä9sŒ (#qà±øB$$sù ’Îû $pkÈ:Ï.$uZtB (#qè=ä.ur `ÏB ¾ÏmÏ%ø—Íh‘ ( Ïmø‹s9Î)ur â‘qౖY9$# ÇÊÎÈ

15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Atas dasar pernyataan diatas, jelas bagi kita bahwa Islam sangant memperhatikan pekerjaan, mencari nafkah dari hasil usaha sendiri, menekankan pada ketrampilan, dan tidak menyukai kemalasan dan pengangguran.

Minat bekerja harus mulai ditanamkan sejak usia muda, dilatih bekerja pada berbagai keahlian dan pertukangan. Upaya tersebut dilaksanakan setelah melewati masa pendidikan sekolah dasar untuk mempelajari kaligrafi, bahasa Arab, mempelajari Al- Qur’an dan keharusan mempelajari ilmu- ilmu syari’ah, sejarah dan pengetahuan alam semesta, dalam rangka mempersiapkan anak untuk mencari nafkah dengan usaha dan keringatnya sendiri.

3. Memberi Kesempatan Kepada Anak Untuk Bermain

Islam adalah agama realita dan kehidupan yang memperlakukan para pemeluknya sebagai manusia yaang memiliki kerinduan hati, spiritual, dan tabiat kemanusiaan. Islam tidak memaksakan kepada manusia agar setiap perkataannya adalah  pelajaran, dan setiap kekosonganya adalah ibadah. Tetapi Islam mengakui tuntuta naluri kemanusiaan, kegembiraan,dengan bermain, bercanda dan berguaru, dengan syarat masih pada batas- batas yang telah ditentukan oleh syari’at Allah dan berada dalam lingkup etika Islam.

Keluhuran ruhani sebagian sahabat Rasulullah saw, telah mencapai tingkat dugaan bahwa beribadat terus menerus, muruqabah terus menerus kepada Allah dapat dilaksanakan jika semuanya dijadikan sebagai kebiasaan. Mereka harus mencampakkan kesenangan dunia dan segala yang baik di dunia, sehingga tidak boleh bergembira, tidak boleh bermain dan tidak boleh beranda.

Bahkan mereka menduga bahwa segenap waktu dan kekosongan mereka harus digunakan untuk pekerjaan dan yang tidak berlebihan, atau tidak mendapat bagian dunia mereka!

Dalam mempersiapkan jasmani dan latihan jihad, Islam mensyari’atkan beberapa tata cara yang menunjukkan kepada siapa saja yang mempunyai akal dan pandangan sehat, bahwa Islam adalah agama realita yang menyetujui bagi pemeluknya untuk bermain yang dibolehkan dan bercanda  yang mubah, selama dalam maslahat Islam, selama dalam batas keramahtamahan bersama keluarganya, anak dan istri.

Beberapa cara tersebut adalah seperti yang diriwayatkan Ath- Thabrani dengan sanad jayyid dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

Segala sesuatu yang tidak terdapat di dalamnya dzikir (ingat) kepada Allah, maka itu adalah permainan yang melalaikan kecuali empat perkara: berlatih menunggang kuda, mencumbu istrinya dan mengajar (belajar) ranang”.

Jika permainannya yang bersih, hiburan yang dibolehkan, persiapan jasmani dan olehraga termasuk keharusan bagi setiap Muslim, maka keharusan itu terlebih bagi Muslim ketika ia masih kecil, karena dua hal:

Pertama : Kemungkinan anak untuk belajar di waktu kecil lebih besar daripad ketika dewasa. Sehingga dikatakan dalam hadits:

Artinya: “Belajar di waktu kecil seperti lukisan di ass batu”. (H.R. Al- Baihaqi dan Ath- Thabrani)

Kedua: Karena kebutuhan anak kepada permainan dan hiburan di waktu kecil, adalah lebih banyak dan besar dibanding ketika ia sudah dewasa. Seperti dikatakan dalam hadits:

Artinya:” Anak yang energik ketika kecilnya adalah pertanda ia akan menjadi orang yang cerdas ketika dewasa”. (H.R. At- Tirmidzi dalam hadits yang jarang).

Rasulullah adalah teladan yang baik dalam segala sesuatu. Beliau bermain dengan anak- anak para sahabat, bercanda  dengan mereka, menghibur dan mendorong mereka untuk bermain bersih dan menghibur diri dengan permainan yang dibolehkan.

Berikut ini   salah satu contoh :

  1. Imam Ahmad dengan sanad hasan meriwayatkan dari Abdu “i-Lah bin Al- harits ra, ia berkata:

Rasulullah  saw. membersihkan Abdu “i- Lah, Ubaidi “I- lLah Ibnu Al- Abbas ra. Kemudian beliau berkata, “siapa dia”Abdu
i-Lah dan Al- Harits berkata, “maka anak- anak tersebut bersaing lari kepada Rasululah saw, sehingga ada yang terjatuh ke punggung beliau dan dada beliau, beliau merangkul dan memanggu semuanya.

Bertitik tolak dari kenyataan- kenyataan ini, aka para ahli pendidikan Islam menyerukan untuk memenuhi kebutuhan anak- anak terhadap bermain, bercanda, beristirahat, setelah mereka belajar atau bekerja.

Kata Al- Ghazali tentang hal ini: “Setelah anak- anak menyelesaikan tugas belajarnya, hendaklah mereka diberi kesepatan untuk bermain- main dengan permainan yang bagus, melepas lelahnya dari kecapaian sekolah. Permainannya itu tidak memayahkan dirinya, karena melarang anak- anak bermain dan terus menerus , memaksa mereka belajar akan mematikan hatinya, melemahkan kecerdasannya, menyempitkan hidupnya. Sehingga, bisa- bisa langsung menari alasan untuk menghindaari kehidupan…”

Faedah bermain ini adalah untuk menghilangkan apa yang dirasakan  anak, yakni kejemuan dan kepayahan, memperbaharui semangat dan kejernihan otaknya, melatih otot- otot jasmani sehingga tidak mudah terkena suatu penyakit dan bencana..

Pertama : Bermain hendaknya tidk menyebabkan kecapaian  yang berlebihan (menambah capek) dan kesulitan yang menyakitkan, Sebab dalam hal seperti itu terdapat bahaya bagi fisik dan melemahkan jasmani, sedang Rasulullah bersabda:

Artinya: “Tidak boleh membahayakan (diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (orang lain) (HR. Imam Malik dan Ibnu Majah)

Kedua : Hendaknya bermain tidak sampai melupakan kewajiban lain hingga tidak mengerjakannya, sebab, yang demikian itu merupakan pembuangan waktu dan membunuh kesempatan.

Artinya: “Bersemangatlah dalam mengerjakan yang mendatangkan manfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu berjiwa lemah”. (H.R. Muslim)

4. Mengadakan Kerja sama Antar Rumah, Masjid dan Sekolah

Faktor yang influintif dalam pembentukan personalitas anak secara intelektual, spiritual dan fisikal adalah mengadakan kerja sama antar rumah, masjid dan sekolah. Tanggung jawab rumah berpusat pada derajat pertama dalam pendidikan jasmani. Sebab, orang yang menyia- nyiakan hak anak- anaknya dan menyepelekan kehidupan keluarganya, baginya dosa yang besar.

Artinya: Cukuplah bagi seorang untuk mendapatkan dosa bahwa ia telah menyia- nyiakan orang yang menjadi tanggungannya”.

Sekolah merupakan derajat pertama pada pendidikan intelektual, karena ilmu pengetahuan memiliki pengaruh besar dalam pembentukan personalitas dan meninggikan kemuliaan manusia.

Keutamaan ilmu pengetahuan sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

Artinya: “Bahwa barang siapa yang keluar dalam mencari iman, maka ia berada dalam jalan Allah sehingga ia kembali”/ (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

Artinya: “Bahwa keutamaan orang yang berilmu pengetahuan atas ahli ibadadah seperti keutamaan bulan purnama atas segenap bintang- bintang”(HR. Abu Daud dan At- Tirmidzi)

Apabila antara rumah dan sekolah , dan masjid sudah menjalin kerja sama, maka berarti anak telah sempurna personalitasnya, terbentuk ruhani, jasmani, mental dan spiritualnya. Bahkan ia menjadi anggota yang fungsional dalam kemajuan umat dan kehormatan agamanya.

Apabila kerja sama ini tidak dapat dilaksanakn secara sempurna kecuali jika dapat memenuhi dua syarat berikut ini:

  1. Hendaknya tidak ada kontradiksi antara arahan rumah dengan arahan sekolah.
  2. Kerja sama hendaknya bertujuan untuk mengadakan kesempurnaan dan keseimbangan dalam membangun personalitas Islam.

Jika kerja sama dengan memenuhi dua syarat asasi di atas, maka anak akan sempurna ruhani dan jasmaninya, terbentuk mental spiritualnya. Bahkan ia menjadi manusia yang memiliki keseimbangan, dikagumi dan dihormati orang lain.

Tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan kerja sama antaar rumah, sekolah dan masjid.

  1. Banyak para guru dan pengajar di sekolah dan di perguruan tinggi yang tidak mengetahui pendidikan secara benar, kecuali hanya meniru bangsa asing dalam tingkah laku dan moralnya, meniru bangsa Erapa dalam kebiasaan dan tradisinya, mengekor Timur atau Barat dalam prinsip dan, keyakinan dan pikiran- pikirannya. Mereka mendidika anak- anak umat Islam dengan cara Barat dan metode kufur yang menyimpang. Sebab, perasaan mereka kotor, hati mereka bernoda dan akal mereka kosong, sangat mencintai Eropa dan Komunis yang kedua- duanya kafir. Bahkan telah terlanjur mencintai kebendaan yang penampilannya gemerlapan.
  2. Buku- buku sekolah yang dipelajari anak- anak di sekolah penuh dengan tipu daya, ragu, menghina agama, propagnda kafir dan kemurtadan. Sebagai contoh: buku Al- Mujtama” (masyarakat) untuk murid- murid sekolah tingkat lanjuta atas di Siria:”Sesungguhnya setiap seruan untuk mendirikan struktur politik berdasarkan agama adalah seruan yang sangat dungu”.

Dalam buku Al- “Ulum (Sains), disebutkan teori Darwin bahwa terori tersebut adalah kenyataan ilmiah. Padahal terori tersebut menyebarkan benih keraguan terhadap Allah Yang Mencipta. Ilmu pengetahuan pun telah membantah dan mencampakkannya ke dalam keranjang sampah. Dalam buku- buku sastra juga terdapat pemusatan terhadap hijab Islami, sebagai dikatakan bahwa hijab adalah simbol kemunduran zaman, simbol konserfatif, dan pemusatan pada sejarah Islam.

  1. Pengajaran agama sangat lemah dibanding dengan materi pengetahuan umum dan sastra yang diterima murid di sekolah. Karenanya, seorang Muslim dengan situasi seperti ini sama sekali tidak akan dapat membaca Al- Qur’an dan tidak akan mengenal hukum- hukum syaari’ah. Tidak mungkin menguasai kenyataan- kenyataan sejarah Islam. Sebab sekolah tidak emberikan materi ini, sehingga murid keluar dari sekolah dengan pengetahuan yang terbatas, memiliki pengetahuan (pemahaman) yang sangat dangkal tentang peraturan Islam, ilmu- ilmu Al- Qur’an dan sejarah kejayaan agamanya. Jika pendidik di rumah tidak melaksanakan tanggung jawab pendidikannya secara sempurna, maka besar kemungkinan sang anak akan menyimpang dari akidahnya dan mencair moralnya. Jika hal seperti itu sudah terjadi, pengarahan tidak akan ada faedahnya lagi.

Kesimpulan: Bahwa sang ayah, di rumah sangat bertanggung jawab terhadap pendidikan jasmani dan pendidikan moral anak. Di Masjid, ia akan mendapat pendidikan ruhani. Dan di Sekolah , ia akan terbentuk akidah, intelektual dan kulturnya.

Jika sang ayah menyadari dan mengetahui bahwa di sekolah anaknya tidak terdidik pada prinsip- prubsuo ajudah Islam, tidak mendapatkan pengajaran=- pengajaran syari’ah, maka hendaknya sang ayah mengambil alih tanggung jawab ini, mencakup pendidikan anak dengan apa saja yang berhubungan dengan Islam , sebagai akidah, ibadah, moral dan syari’ah. Bahkan ia harus meningkatkan upaya dan mempergunakan setiap kesempatan untuk melakukan segala sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada anaknya. Ia juga harus menjalin hubungan antara anaknya dengan masjid dan alam ketuhanan, dengan teman yang baik, atau dengan guru yang tulus. Dengan demikian sang ayah telah membekali anaknya dengan akidah Islam yang kokoh dan pertahanan akhlak Islam yang lurus. Sehingga tidak goyah menghadapi badai kekufuran, tidak akan terbawa arus dekadensi moral dan penyimpangan.

  1. Memperkuat Hubungan Antar Pendidik dan Anak

Berdasar kaidan pendidikan yang telah diepakati para ahli Ilmu sosial, ilmu jiwa dan pendidikan, adalah memperkuat hubungan antara pendidik dengan anak, agar interaksi edukatif dapat terlaksana dengan sebaik- baiknya. Termasuk pembentukan intelektual, spiritual dan moral dapat berjalan sesempurna mungkin.

Sudah menjadi suatu keyakinan bagi orang- orang yang berakal, bahwa jika terdapat jurang pemisah dan jarak antara anak dan pendidik, murid dan guru, dengan sendirinya proses anak dan pendidik, murid dan guru. Dengan sendirinya proses pengajaran tidak dapat terlaksana dengan sempurna. Pendidikan juga tidak dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu, para ayah dan pendidik hendaknya mencari cara- caara positif dalam menciptakan kecintaan anak, memperkuat hubungan, mengadakan kerja sama antara mereka, dan merasakan kasih sayang .

Cara – cara itu adalah:

1. Hendaknya pendidik bersikap manis muka, tidak kikir, menampakkan senyuman kepada anak. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan At- Tirmidzi dan Abu Dzar:

Artinya: “Senyummu kepada saudaramu adalah shadaqah”.

  1. Dalam memberikan motivasi kepada anak dengan memberikan hadiah dalam setiap pekerjaan yang dikerjakan dengan baik, atau karena ia menonjol dalam belajarnya.
  2. Mencipatakan anak merasakan bahwa ada perhatian yang diberikan oleh sang ayah. Bahwa sang ayah menaruh kasih sayang kepadanya. Sebagaimana hadits riwayat Baihaqi  berikut:

Artinya:” Barang siapa yang tidak memperhatikan kaum Muslimin, maka tidak termasuk golongan mereka”.

  1. Memperlakukan anak  dengan budi  pekerti yang baik dan keramahtamahan. Sebagaimana hadits berikut:

Artinya;”Orang yang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya, dan paling ramah dengan keluarganya”.

Pendidik hendaknya memenuhi kehendak anak agar menjadi penolong dalam berbakti kepadanya. Abu Asy- syaikh meriwayatkan dari Rasulullah saw.  bahwa beliau bersabda:

Artinya:”Semoga Allah melim[ahkan rahmat- Nya kepada orang tua yang membantu anaknya dalam berbakti kepadanya”.

Juga diperlukan bersatunya pendidik dengan anak untuk menghiburna. Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir, ia berkata:”

Saya menghadap Nabi, dan beliau sedang merangkak, di atas punggungnya Hasan dan Husain, dan beliau berkata, “sebaik- baik unta adalah untamu berdua, dan sebaik- baik muatan adalah kamu berdua”

  1. Berjalan Pada Metode Edukatif Setiap Saat

Salah satu tanggung jawab yang harus diperhatikan pendidik, adalah mendidik anak mengikuti metode edukatif dalam kehidupan sehari- hari. Sehingga, ia terbiasa dengan metode itu higga yana akan datang. Ketika ia melaksanakannya, akan mendapatkan segala hal yang bersifat edukatif sebagai suatu kebiasaan yang tidak asing baginya.

Metode- metode tersebut antara lain:

  1. Di Pagi Hari, Pendidik Mengikuti metode Ini

Sungguh indah jika kita dan anak- anak, ketika bangun dari tidur, kesadaran kita dan anak- anak mengucapkan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Yakni mengucapkan do’a yang ma’tsur yakni doa bangun tidur.

Kemudian , jika sang anak hendak pergi ke kamar kecil, ajarkanlah tata cara memasuki kamar kecil tersebut bersuci (beristinja’). Dan hal- hal yang baik menurut syari’at Islam.

Suatu hal yang penting diketahui pendidik adalah, bahwa jasmani harus mendapatkan bagiannya dalam tidur dan istirahat, sehingga semangatnya pulih kembali untuk memikul beban kehidupan dan tugas- tugasnya.

Anak- anak khususya, harus diperhatikan segi kesehatannya dan tidurnya karena mereka masih dalam fase- fase pertumbuhan jasmani, akal pikiran dan kejiwaan. Paling sedikit, anak- anak dalam sehari semalam harus tidur delapan jam, Jika tidak cukup, maka jasmaninya terancam kelemahan.

Rasulullah saw, tidur sejenak setelah shalat Dhuha untuk mengganti tidur malamnya yang dipakai untuk shalat tahajjud, Ini adalah arahan mulia untuk umat ini, sehingga mereka sehat jasmani dan rohani, kuat kemauan dengan semangat dan vitalitas yang baru.

Metode Rasululullah saw, dalam sehari semalam mencakup dzikir dan ibadah, etika Islam, antara olahraga , kebudayaan dan senda gurau, dan memusatkan pada segi tertentu dari arahan, persiapan dan pendidikan.

Jika kita dapat melaksanakan metode- metode di atas secara terus menerus, Insya Allah anak kita akan tumbuh dalam kesucian dan akhlak, berkembang pada iman dan takwa, menjadi manusia yang matang dan berimbang, takut kepada Allah, baik di waktu sendiri atau di muka orang, selalu merasakan bahwa Allah mengawasi dimana saja ia berada. Sehingga selamanya ia mantaati prinsip- prinsip Islam. Bahkan, kepada anak- anak lain ia dapat memberikan teladan yang bai. Karenanya janganlah kita jemu berada dalam kebaikan.

Tetapi dalam melaksanakan metode ini, hendaknya kita memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

  1. Senantiasa berusaha menerapkan apa yang tercantum dalam pasal “Tata Cara omfluentif dalam Mendidik Anak”, dan “Tanggung Jawab Pendidikan Sosial” dalam upaya mengarahkan anak pada setiap kesempatan.
  2. Metode edukatif ini diperuntukkan bagi anak menjelang usia mumayyiz dan seudahna. Sedang bagi anak- anak di bawah usia sepuluh tahun, maka pendidik hendaknya memakai metode lain, yang tersimpul dalam dua point di bawa ini:
  1. Mengajarkan kepada mereka prinsip- prinsip akidah Islam, mengajarkan rukun- rukun ibadah, terutama shalat.
  2. Mengajarkan prinsip-prinsip etika Islam, seperti jujur, amanah (dapat dipercaya), berbakti kepada kedua orang tua, harus memperingatkan untuk menghindari dust, khianat, durhaka kepada kedua orang tua, mencela dan mencaci maki.

Metode edukatif ini diperuntukkan bagi anak kecil sesuai dengan prinsip yang digariskan Rasulullah saw. ketika beliau bersabda:

Artinya:”Kami para nabi, diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat berpikir mereka”. (HR. Ad- Dailami).

  1. Menggunakan metode harian, Jadikan sebagian waktu khusus untuk bertanya kepada anak- anak tentang apa yang mereka hadapi dan pelajari. Jika kita menjumpai bahwa pengarahan dan pelajaran yang mereka teria dari sekolah tidak sesuai dengan akidah dan etika Islam, segeralah membetulkan pikiran mereka, mengingatkan dari pengajar kejahatan dan kesesatan, dan menindak tegas siapa saja yang mengingkari Islam, mengkhianati amanat pendidikan yang utama, dan menjerumuskan anak- anak dalam kurungan kemurtadan dan kekufuran.
  2. Secara terus menerus, ajarkan kepada anak- anak tentang prinsip persaudaraan, kasih sayang, tolong menolong dan mendahulukan kepentingan orng lain. Sehingga, jika mereka menjadi teladan dalam kasih sayang, kecintaan dan berbakti kepada orang tua.
  3. Setiap kali kita melihat ada waktu luang, bawalah mereka keluar, berjalan- jalan di taman, atau pesiar ke tepi pantai. Kita tidak boleh menyia- nyiakan hak edukatif ini, sehingga semangat mereka kembali pulih, kesegaran meliputi jiwanya. Bahkan mereka bisa belajar beberapa jenis olahraga, seperti renang dan permainan yang belum sempat mereka lakukan di sekolah atau di rumah.
  4. Berpuasalah bersama keluarga dan anak- anak pada hari- hari yang secara syara’ disunatkan melakukan puasa pada hari tersebut. Sehingga, jika kita dan mereka duduk menghadapi meja untuk berbuka puasa, mereka melihat keceriaan dan kasih sayang  kita.
  5. Kita sekali- kali dibolehkan memberi hadiah kepada anak- anak, memenuhi permintaan mereka, misalnya harta dan membelikan kebutuhan mereka.

Inilah gagasan- gagasn terpenting yang perlu diterapkan setiap saat.

  1. Menyediakan Prasarana Yang Bermanfaat

Tanggung jawab pendidikan dalam hubungannya dengan kewajiban memberi pengajaran dan pendidikan kepada orang- orang yang berhak menerimanya, maka mereka harus menyediakan prasarana kultural yang bermanfat dan bervariasi hingga anak- anak berpikiran matang, hidupnya terbentuk dari segi akal dan intelektualnya.

Adapun prasarana dimaksud antara lain:

  1. Mendirikan perpustakaan khusus anak- anak, yang terdiri dari berbagai macam buku- buku sebagai berikut:

1.1.            Al- Qur’an yang tulisannya jelas dan lengkap dengan harakatnya, untuk setiap anak dalam keluarga.

1.2.            Buku- buku tafsir untuk surat- surat pendek yang sesuai dengan daya pemahaman anak- anak, ketika usia mereka baaru menginjak masa mumayyiz.

1.3.            Buku tafsir Al- Qur’an secara umum yang sesuai dengan pemaaman anak- anak berusia di atas mumayyiz.

1.4.            Buku- buku khusus tentang hadits, sesuai dengan usia, pemahaman dan latar belakang kulturnya.

1.5.            Buku- buku khusus fiqh, terlebih- lebih yang berkaitan tentang ibadah, sesuai dengan usia, pemahaman dan latar kulturnya.

1.6.            Buku- buku khusus tentang akidah Islam, yang membahas berbagai masalah dengan metode kisah atau dialog.

1.7.            Buku- buku tentang sejarah ehidupan Rasulullah saw, yang dituturkan dengan gaya bahasa yang menarik dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti.

1.8.            Buku- buku yang merupakan pemikiran secara umum, sesuai dengan daya pikir dan pemahaman anak- anak, yang mengkaji Islam sebagai keseluruhan. Bahwa Islam adalah aturan pemerintahan, metode kehidupan, dan menyanggah keraguan yang dibangkit- bangkitkan musuh tentang tata aturan Islam.

1.9.            Buku- buku ilmiah, sejarah umum, sastra dan kedokteran yang sesuai dengan daya pemahaman anak- anak, berdasarkan latar belakang kultur dan usia mereka.

  1. Berikut adalah buku- buku yang harus dimiliki anak di perpustakaan rumah

2.1.            Serial Ma’a’l Jaili’l Muslim (Bersama Generasi Muslim) karangan Ustadz Yusuf Al- Azham.

2.2.            Maktabatu ‘th –Thifli’d Diniyah (Perpustakaan Agama untuk anak- anak), memuat 30 kisah, karangan Ustadz Muhammad Athiyyah  al Abrasy, untuk usia 7 – 12 tahun.

2.3.            Serial Al’ Arab fi Aurubah (Bangsa Aarab di Eropa), karangan Ustadz Abdu ‘l- Hamid jaudat As- Sahhar, Diterbitkan oleh Maktabah Misr, untuk usia 12- 16 tahun.

2.4.            Serial Qishatul Anbiya’(Kisah Para Nabi),

2.5.            Serial Khulafa’ur Rasyidin.

2.6.            Majmu’atu ‘Syirah an-Nabawiyah (Kumpulan Sejarah Kehidupan Rasulullah s.a.w) karangan Abdul Hamid jaudat as- Sahhar, untuk usia 6 – 12 tahun.

Dan lain- lain (baca pada materi gagasan edukatif hal. 500 -507).

Dalam memilih buku- buku untuk mengisi perpustakaan rumah perlu diperhatikan hal- hal sebagai berikut:

  1. Apabila Berlangganan Majalah Mingguan atau Bulanan

1, Diketahui secara pasti bahwa oriantasinya adalah Islam atau ilmu pengetahuan saja.

2. Staf redaksinya, tak seorangpun yang anti Islam.

3. Memuat tulisan- tulisan yang membahas masalah- masalah yang berkaitan dengan wanita dan pria dalam tingkat umur yang berbeda- beda.

4. Tidak memuat gambar- gambar yang bertentangan dengan keutamaan dan akhlak.

5. Tidak pernah memuat tulisan- tulisan yang meracuni Islam.

c. Menggunakan Slide dan Film

Sebagai prasarana kultural yang bermanfaat dan menumbuhkan indera anak serta mengokohkan indera anak serta mengokohkan kulturnya adalah penggunaan slide dan film rumah dengan mempertunjukkan film- film yang berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemegahan sejarah, pengetahuan geografis dan pengetahuan edukatif.

Anak akan bersemangat dan bergairah da kuat kesiagaannya ketika dengan mata kepalanya ia melihat realitas ilmu pengetahuan dan sejarah yang terpersonifikasikan dalam pemandangan secara visual dengan gambar yang jelas dan hidup.

c. Menggunakan Alat Peraga

Sebagai prasaarana yang bermanfaat dalam mengajar anak dan membekalinya dengan pengetahuan, adalah dengan menggunakan alat peraga yang menjelaskan sesuatu yang sulit diterangkan dengan lisan saja.

  1. Mengunjungi Museum dalam Setiap Kesempatan

Suatu masalah yang tidak kalah penting dalam menciptakan sikap anak, adalah mengunjungi museum yang dikoordinasi oleh pendidik, baik museum yang berada di negaranya sendiri atau yang terdapat di negara Islam lainnya.

Hendaknya pendidik memilih dan menentukan waktu tertentu untk mengunjungi museum bersama anak- anak, sehingga mereka mengenal makna- makna kemuliaan, kejayaan, kemegahan dan kebangkitan.

  1. Mengunjungi Perpustakaan Umum, Jika ada Kesempatan

Metode edukatif lain adalah dengan mengunjungi perpustakaan umum, setiap kali ada kesempatan, baik perpustakaan peninggalan atau yang sengaja diadakan. Kegunaan mengunjungi  perpustakaan ini adalah untuk melatih anak- anak, bagaimana caranya meminjam buku, baik untuk langganan atau keperluan insidentil. Juga untuk membiasakan anak berani bersikap sopan santun, membiasakan mengunjungi tempat- tempat umum dengan menjaga peraturan- peraturannya, dan mengunjungi pusat- pusat ilmu pengetahuan.

Faedah lainnya adalah berupa pengetahuan tentang peninggalah Islam yang berhubungan dengan alam pikiran, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, disamping menyingkap ideologi Islam yang universal tentang alam semesta, kehidupan dan manusia. Juga membuka ufuk baaru tentang kebangkitan kultur yang dilakukan oleh generasi terdahulu di sepanjang sejarah.

Jika kita tidak berkesempatan untuk melakukan hal- hal tersebut diatas, maka izinkanlah anak- anak pergi bersama gurunya di sekolah atau orang yang berkepentingan dalam dunia pendidikan, agar anak- anak mendapatkan banyak masukan pengetahuan tentang kunjuangan ke tempat- tempat sumber ilmu pengetahuan.

  1. Membangkitkan Minat Anak dalam Membaca Selalu

Bertumpu dari syi’ar yang dijunjung tinggi oleh Islam, di sebutkan:

( @è%ur Éb>§‘ ’ÎT÷ŠÎ— $VJù=Ïã ÇÊÊÍÈ

114. Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

[946] Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.

3 ö@è% ö@yd “ÈqtGó¡o„ tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.x‹tGtƒ (#qä9’ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Wajib bagi setiap orang yang merasa bahwa dirinya berkepentingan terhadap kepentingan pikiran anak, membentuk segi intelektual dan kulturnya, untuk memperkenalkan kepada anak sejak usia kecil hal- hal dibawah ini:

  1. Islam sebagai Agama dan Daulah
  2. 2. Al- Qur’an sebagai peraturan dan sumber hukum
  3. 3. Tarikh Islam sebagai kebanggaan dan teladan
  4. 4. Kultur Islam yang fleksibel dan universal
  5. 5. Ikatan gerakan terhadap dakwah Islam dengan semangat.

Masalah- masalah di atas tidak dapat sampai ke benak anak- anak kecuali dengan membaca secara menyeluruh hal- hal berikut ini:

  1. Membaca buku- buku pemikiran (ideologi) yang mengungkapkan tentang keabadian Islam. Sebab, keistimewaan agama ini mengandung komponen- komponen universal, selalu aktual dan berlaku sepanjang masa.
  2. 2. Membaca buku- buku sejarah yang menjelaskan kepada anak tentang kejayaan Islam dan kemuliaan kaum Muslimin pada masa silam.
  3. 3. Membaca buku- buku yang berkaitan dengan “serangan alam pikiran” atau “pertarungan alam pikiran” yang menyingkap rencana- rencana yang digariskan musuh- musuh Islam, baik Yahudi, Komunis muapun tentara Salib.
  4. 4. Membaca buku- buku kultural, yang mengungkapkan tentang kultur Islam yang telah mencapai puncak kejayaannya, yang disaksikan oleh generasi dalam beberapa abad yang lalu.

Sang anak tidak akan tertarik untuk membaca kecuali dengan memberikan metode yang menggugahkan minatnya. Metode tersebut antara lain:

  1. Menjelaskan perimbangan antara ilmu pengetahuan da kebodohan, perbandingan antara orang- orang yang berilmu pengetahuan dengan  orang- orang yang tidak berilmu pengetahuan. Perimbangan dan perbandingan ini adalah metode yang ipakai Al- Qur’an dalam memberi kelegaan dan argumentasi, sebagaimana dijelaskan pada  Q.S. 39:9.
  2. 2. Mengadakan lomba antar anak- anak. Di antaranya lomba kecepatan membaca dan lomba jumlah buku yang dibaca dalam waktu yang dibatasi. Kemudian, hasil bacaan mereka diuji. Dan untuk memberikan semangat dan gairah, disediakan hadiah bagi pemengan. Metode ini untuk menghormati dan dapat mendorong untuk melakukan perbuatan baik, sesuai anjuran Imam Al- Ghazali sebagai berikut:

“Jika tampak pada diri anak kecil budi pekerti yang bagus dan perbuatan yang terpuji, maka sangat perlu anak tersebut dihormati dan diberi hadiah yang menggembirakannya. Juga dipuji dihadapan orang- orang, untuk mendorong agar selalu berbudi pekerti yang baik dan berperilaku terpuji”.

  1. Memberi pemahaman kepada anak bahwa apa yang dibaca dan dipelajarinya daari bacaan yang berfaedah dan ilmu yang bermanfaat, jika disertai dengan niat yang suci dan maksud yang tulus, maka baginya pahala yang sama dengan pahala orang- orang yang patuh beribadah.
  2. Menciptakan suasana hening, lingkungan yang bersih dan menyenangkan, sinar yang cukup, pemandangan yang memikat dan keheningan yang sempurna, dan mengatur suhu udara di waktu musim panas maupun di musim dingin. Upaya ini dapat membantu anak dalam membangkitkan minat membaca dan menggairahkannya.
  3. Menyediakan buku yang bermacam- macam untuk anak, baik untuk perpustakaan rumah, perpustakaan sekolah, perpustakaan masjid maupun perpustakaan umum.
  4. Memberi pemahaman kepada anak bahwa waktu adalah pedang. Bahwa tugas lebih banyak daripada waktu. Bahwa apa yang tidak diketahui lebih banyak daripada yang diketahui. Dan Islam memerintahkan kepada setiap Muslim untuk mengisi kekosongan dengan apa yaang mendatangkan manfaat, sesuai sabda Rasulullah yang artinya sebagai berikut:

“Pergunakanlah lima sebelum datangnya lima, Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, kekosonganmu sebelum kesibukanmu, masa mudamu sebelum masa tuamu dan kekayaanmu sebelum kefakiranmu”.

Membaca, tidak akan membuahkan apa yang diharapkan keduali dengan mengikuti beberapa metode di bawah ini:

  1. Persiapan psikhologis sebelum membaca, yakni dengan niat bahwa ia membaca untuk membekali diri sebagai persiapan dakwah, menyampaikan risalah Islam, memberikan manfaat kepada umat dan negaranya.
  2. Konsentrasi ketika membaca, yakni membaca dengan keseluruhan pikiran, hati dan perasaannya, sehingga mengerti dan menguasai setiap kata dan maksud yang dibacanya.
  3. Meletakkan garis- garis dengn pensil di bawah kata- kata yang penting dan pokok- pokok pikiran, seingga mudah dicari.
  4. Meletakkan unsur- unsur asasi sebagai catatan kaki dengan pensil, agar penguasaan terhadap unsur- unsur tersebut, dapat dicapai dengan sempurna.
  5. Mencatat judul- judul materi penting, atau pemikiran pembahasan yang disenangi dalam catatan khusus, dengan menyebutkan nama buku dan nomor halaman, sehingga, jika membutuhkannya, dapat kembali kepada buku referensi secara mudah.
  6. Menyiapkan buku catatan khusus untuk mencatat segala sesuatu yang baik dibaca oleh siapa saja, yakni dalil- dalil hadits, cuplikan sastra, sya’ir- syair hikmah, kisah sejarah, ilmu pengetahuan atau fatwa- fatwa syari’ah.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari beberapa uraian diatas tentang Gagasan Edukatif Yang Harus Dicanangkan, maka kami menarik beberapa kesimpulan antara lain:

  1. Didalam mendidik anak, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ternyata banyak hal yang harus dilakukan oleh para pendidik/orang tua dalam mewujudkan generasi- generasi yang mandiri, berbudi luhur, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, iman dan takwa.
  2. Dalam melaksanakan tugas kependidikan ada beberapa gagasan edukatif yang perlu dicanangkan oleh para pendidik yakni:
  1. Membangkitkan motivasi anak untuk mendapatkan pekerjaan mencari nafkah dengan cara yang paling baik.
  2. Memelihara persiapan- persiapan naluri anak.
  3. Memberi kesempatan kepada anak untuk bermain.
  4. Mengadakan kerja sama antara rumah, masjid dan sekolah.
  5. Mempererat hubungan antara pendidik dan anak.
  6. Berjalan di atas metode pendidikan setiap saat.
  7. Menyediakan prasarana kultural yang bermanfaat bagi anak.
  8. Membangkitkan minat anak untuk aktif membaca.
  9. Menumbuhkan rasa tanggung jawab anak terhadap Islam.
  10. Memperdalam semangat jihad dalam jiwa anak.
  1. Tanggung jawab terpenting yang harus dihadapi pendidik terhadap anaknya adalah memberi dorongan untuk mendapatkan pekerjaan yang bebas, baik pertukangan, pertanian atau perniagaan dan lain sebagainya.
  2. Kita harus membedakan antara dua anak dalam mengajarkan keterampilan dan pertukangan:
    1. Golongan pertama: Golongan yang berhasil dalam belajarnya. Mereka adalah orang yang cerdik dan pandai. Orang- orang seperti ini disarankan untuk meneruskan studi hingga selesai. Tetapi pada waktu libur atau senggang hendaknya mereka belajar ketrampilan , pertukangan dan keahlian tertentu. Sebab mereka tidak mengetahui kejadian yang akan dihadapinya pada masa yang akan datang.
    2. Golongan kedua, golongan yang tertinggal  dalam belajarnya  Mereka yang mempunyai kecerdasan sedang atau bodoh. Anak- anak ini setelah diajarkan masalah yang berkaitan dengan agama dan kehidupan dunia harus segera diarahkan pada suatu keterampilan dan spesialisasi pertukangan. Pada waktu itu, orangtua atau pendidik hendaknya  mengerti akan ketidakmampuan mereka dalam mencari ilmu yang lebih daari itu. Adalah sangat keliru orangtua (wali murid) meneruskan studi mereka, sedang kemampuan otak sangat terbatas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: