Perencanaan Pendidikan Islam

Ibnu Rawandhy N. Hula, MA

Perencanaan Pendidikan adalah suatu usaha melihat kemasa depan dalam hal menentukan kebijakan, prioriatas dan biaya Pendidikan dengan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada dalam bidang ekonomi, social dan politik untuk pengembangan potensi system pendidikan nasional, memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut.

PENGERTIAN PERENCANAAN

  1. Menurut Prayudi Atmosudirjo Perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam mencapai tujuan tertentu, oleh siapa , dan bagaimana.
  2. Bintoro Tjokroamidjoyo ; Perencanaan adalah proses mempersiapkan kegiatan-kegiatansecara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
  3. M. Fakry ; Perencanaan dapat diartikansebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan dating untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan itu dapat pula diberi arti sebagai suatu proses pembuatan serangkaian kebijakan untuk mengendalikan masa depan sesuai yang ditentukan. Perencanaan dapat pila diartikan sebagai upaya untuk memadukan antara cita-cita nasional dan resources yang tersedia  yang diperlukan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

PENGERTIAN PERENCANAAN PENDIDIKAN

  1. Menururt Guruge Perencanaan Pendidikan adalah Proses mempersiapkan kegiatan dimasa depan dalam bidang pembangunan pendidikan.
  2. Albert Waterston Perencanaan pendidikan adalah investasi pendidikan yang dapat dijalankan dan kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang didasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan social.
  3. Menurut Coombs, Perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat.

KARAKTERISTIK PERENCANAAN PENDIDIKAN

Perencanaan pendidikan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Perencanaan pendidikan harus mengutamakan nilai-nilai manusiawi karena pendidikan itu membangun manusia yang harus mampu membangun dirinya dan masyarakatnya.
  2. Perencanaan pendidikan harus memberikan kesempatan  untuk mengembangkan segala potensi anak didik seoptimal mungkin.
  3. Perencanaan pendidikan harus memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak didik.
  4. Perencanaan pendidikan harus komprehensif dan sistematis dalam arti tidak partikal atau segmentaris tapi menyeluruh dan terpadu serta disusun secara logis dan rasional serta mencakup berbagai jenis dan jenjang pendidikan.
  5. Perencanaan pendidikan harus berorientasi pada pembangunan dalam arti bahwa program pendidikan haruslah ditujukan untuk membantu mempersiapkan manpower yang dibutuhkan oleh berbagai sektor pembangunan.
  6. Perencanaan pendidikan harus dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitannya dengan berbagai komponen pendidikan secara sitematis.
  7. Perencanaan pendidikan harus menggunakan resources secermat mungkin karena resources yang tersedia adalah langka.
  8. Perencanaan pendidikan haruslah berorientasikan kepada masa yang akan datang, karena pendidikan adalah proses jangka panjang dan jauh untuk menghadapi masa depan.
  9. Perencanaan pendidikan haruslah kenyal dan responsive terhadap kebutuhan yang berkembang dimasyarakat tidak statis tapi dinamis.
  10. Perencanaan pendidikan haruslah merupakan sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan hingga pembaharuan terus menerus berlangsung.

BEBERAPA PRINSIP PERENCANAAN

Perencanaan pendidikan mengenal prinsip-prinsip yang perlu yang menjadi pegangan baik dalam proses penyusunan rancangan maupun dalam proses implementasinya. Prinsip-prinsip itu dalah sebagai berikut :

  1. Perencanaan itu interdisipliner karena pendidikan itu sendiri sesungguhnya  interdisipliner terutama dalam kaitannya dengan pembangunan manusia.
  2. Perencanaan itu fleksibel dalam arti tidak kaku tapi dinamis serta responsive terhadap tuntutan masyarakat terhadap pendidikan. Karena itu planner perlu memberikan ruang gerak yang tepat terutama dalam penyusunan rancangan.
  3. Perencanaan itu harus obyektif rasional dalam arti untuk kepentingan umum bukan untuk kepentingan subyektif sekelompok masyarakat saja.
  4. Perencanaan itu tidak dimulai dari nol tapi dari apa yang dimiliki, ini berarti segala potensi yang tersedia merupakan asset yang perlu digunakan secara efisien dan optimal.
  5. Perencanaan itu wahana untuk menghimpun kekuatan-kekuatan secara terkoordinir dalam arti segala kekuatan dan modal dasar perlu dihimpun secara terkoordinasikan untuk digunakan secermat mungkin untuk kepentingan pembangunan pendidikan.
  6. Perencanaan  itu disusun dengan data, perencanaan tanpa data tidak memiliki kekuatan yang dapat diandalkan.
  7. Perencanaan  itu mengendalikan kekuatan sendiri, tidak bersandarkan pada kekuatan orang lain, karena perencanaan yang bersandarkan pada kekuatan bangsa lain akan tidak stabil dan mudah menjadi obyek politik bangsa lain.
  8. Perencanaan itu komprehensif dan ilmiah dalam erti mencakup keseluruhan aspek esensial pendidikan dan disusun secara sistematik ilmiah dengan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep keilmuan.

DATA DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN

Data dasar atau base line data untuk perencanaan pendidikan mempunyai fungsi yang amat penting, sebab tanpa data dasar perncana atau planners tidak mungkin dapat mengembangkan perencanaan pendidikan yang diperlukan. Data dasar ini mencakup berbagai  aspek bukan saja tentang pendidikan tapi juga data diluar pendidikan yang mempunyai keterkaitan erat dengan pendidikan. Karakteristik data yang diperlukan untuk pengembangan perencanaan pendidikan sesuai dengan sifat perencanaan pendidikan yang multi disipliner. Adapun data dasar itu dapat dikelompokkan seperti berikut ini :

  1. Kependudukan ; Mencakup struktur penduduk, populasi usia sekolah yang ada didalam sistem persekolahan dan yang berada diluar sistem persekolahan. Dan struktur angkatan kerja yang berdasarkan kategori kerja dan pendidikan. Data ini diperlukan untuk menentukan cakupan populasi yang perlu mendapat kesempatan pendidikan dalam kaitannya dengan kebutuhan pada berbagai sektor pembangunan.
  2. Data ekonomi ; Mencakup anggaran pendapatan dan belalanja pembangunan`negara, tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi pertahun serta jumlah dan kecenderungan investasi terhadap pendidikan pendidikan. Data ini diperlukan dalam kaitannya dengan kemampuan ekonomi pemerintah untuk memperluas kesempatan pendidikan dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pendidikan dalam penggunaan sumber dana yang ada.
  3. Kebijakan Nasional yang merupakan keputusan politik, mencakup; Falsafah dan  tujuan nasional, keputusan badan legislative negara yang harus menjadi pegangan upaya pembangunan untuk seluruh sektor dan falsafah pendidikan yang dianaut.
  4. Data Kependidikan ;  mencakup enrolment (murid) untuk setiap jenjang jenis personal pendidikan yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan , lulusan , droup auts, perpindahan , kenaikan dari kelas atau tingkat yang satu ketingkat yang lain, kurikulum, fasilitasa pendidikan, dana pendidikan dan lain-lain.
  5. Data ketenagakerjaan ; jumlah dan jenis man power yang diperlukan dalam setiap sector pembangunan, kelompok jenis kerja yang langkah tapi diperlukan dan kemampuan pasar dalam merespon terhadap lulusan untuk memberi kesempatan kerja kepada mereka.
  6. Nilai dan sosial budaya ; Mencakup agama dan pemeluknya, sistem nilai yang berlaku dann dipegang oleh masyarakat, berbagai jenis dan bentuk kebudayaan yang ada atau yang mungkin dapat digali dan dikembangkan. Data ini perlu sebagai imbangan terhadap data kuantitatif dalam rangka pengembangan berbagai program akademik yang dijiwai oleh nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Pengumpulan data yang diperlukan diatas dilakukan melalui survey dengan kontrol yang ketat untuk memelihara kualitas data. Kegiatan pengumpulan data ini dikaitkan dengan tahapan dalam proses perencanaan untuk menentukan titik berangkat perencanaan. Dengan adanya data ini segala keberhasilan, kekuatan, kesulitan dan kelemahan dapat ditelusuri sedemikian rupa sehingga planner dapat mengembangkan titik berangakat perencanaan sesuai dengan tahap yang telah dicapai.

Secara praktis  tanpa data kegiatan untuk menyusun program perencanaan yang baik tidak dapat dilaksanakan. Uraian ini menunjukkan bahwa kedudukan data dasar dalam proses perencanaan begitu penting, sehingga planner tidak mempunyai pilihan lain kecuali memiliki data tersebut dalam mewujudkan tugasnya sebagai perencana (planner)

TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROSES PERENCANAAN

Kegiatan perencanaan adalah kegiatan yang sistematik dan karena itu kegiatan-kegiatan dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaan perencanaan  memerlukan tahapan-tahapan yang sesuai dengan karakteristik perencanaan yang sedang dikembangkan. Banghart mengembangkan tahapan-tahapan perencanaan sebagai berikut :

  1. Proloque; Pendahuluan atau langkah persiapan untuk memulainya suatu kegiatan dalam perencanaan.
  2. Identifing educational planning problems yang mencakup;
  1. menentukan ruang lingkup permasalahan perencanaan
  2. megkaji apa yang telah dilaksanakan.
  3. Membandingkan apa yang telah dicapai dan apa yang seharusnya dicapai
  4. Sumber-sumber daya yang tersedia dan keterkaitannya.
  5. Mnegembangkan bagian-bagian perencanaan dan prioritas perencanaan.
  6. Mengkaji permasalahan dan sub permasalahan.
  7. Pengumpulan data, tabulating data,atau tabulasi data.
  8. Proyeksi.
  9. identifikasi kecenderungan-kecenderungan yang ada.
  10. Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus
  11. Menyusun rencana
  12. Simulasi rencana
  13. Evaluasi rencana
  14. Memilih rencana
  15. Mermuskan masalah
  16. Menyusun hasil rumusan dalam bentuk final plan draft rencana akhir.
  17. Persiapan rencana operasional
  18. Persetujuan dan pengesahan rencana
  19. Mengatur aparat organisasi
  20. Memantau pelaksanaan rencana
  21. Evaluasi pelaksanaan rencana
  22. Mengadakan penyesuaian, mengadakan perubahan rencana atau merancang apa yang perlu dirancang lagi, bagaimana perancangan dan oleh siapa.
  1. Analizing planning problem area artinya mengkaji permasalan-permasalan yang mencakup ;
  1. Conceptualizing and and designing plans,mengembangkan rencana yang mencakup;
  1. Evaluting  plan, menilai rencana yang telah disusun tersebut  yang mencakup;
  1. Specifing the plan , menguraikan rencana yang mencakup ;
  1. Implementing the plan, melaksanakan rencana yang mencakup ;
  1. Plan feedback, balikan pelaksanaan rencana yang mencakup ;

Jenjang Dan  Jenis Perencanaan

BEBERAPA PENDEKATAN DALAM PERENCANAAN PENDIDIKAN

  1. Pendekatan Tuntutan sosial (social Demand Aproach)

Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan permintaan masyarakat masyarakat yaitu suatu pendekatan yang bersifat tradisional dalam pengembangan pendidikan. Pendektan ini di dasarkan pada tujuan untuk memenuhi tuntutan atau permintaan seluruh individu terhadap pendidikan pada tempat dan waktu tertentu dalam situasi perekonomian sosial, politik dan kebudayaan yang ada pada waktu itu. Pendekatan permintaan atau tuntutan masyarakat seperti ini telah dilakukan di Indonesia pada masa orde baru yakni pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu dan perluasan pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan dan memantapkan pelaksanaan wajib belajar, serta meningkatkan perluasan kesempatan belajar pada tingkat pendidikan menengah.

Pemerintah mencoba menggunakan pendekatan “Tuntutan atau kebutuhan masyarakat” dengan strategi bahwa bukan anak yang mendatangi sekolah tapi sekolah lah yang mendatangi anak didik. Dengan kata lain lembaga pendidikan dasar didekatkan dengan pemukiman penduduk.

  1. Pendekatan Ketenagakerjaan (Man Power Aproach)

Dalam pendekatan ketenagakerjaan ini kegiatan-kegiatan pendidikan diarahkan kepada usaha untuk memenuhi kebutuhan nasional akan tenaga kerja. Pada tahap permulaan pembangunan tentu saja memerlukan banyak tenaga kerja dari segala tingkatan dan dalam berbagai jenis keahlian.

Dalam keadaan seperti ini kebanyakan negara mengharapkan supaya pendidikan mempersiapkan dan menghasilkan tenaga kerja yang terampil untuk pembangunan dalam sektor pertanian, perdagangan, industri, dan lain sebagainya dan juga untuk calon pemimpin yang cerdas dalam profesinya. Untuk itu perencana pendidikan harus mencoba membuat perkiraan jumlah dan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan oleh setiap kegiatan pembangunan nasional.dalam hal ini perencana pendidikan dapat meyakinkan bahwa penyediaan fasilitas dan pengarahan arus murid benar-benar di dasrkan atas perkiraan kebutuhan tenaga kerja tadi.

Pendekatan ketenagakerjaan ini sering dipergunakan oleh negara-negara yang sedang berkembang ataupun negara yang teknologinya maju dimana setiap waktu dibutuhkan jenis keahlian baru. Ahli-ahli teknologi modern dengan menciptakan teori dan sistem yang baru, dengan sendirinya mendorong teknologi untuk berkembang secara pesat dan hal ini menyebabkan pula timulnya kebutuhan akan tenaga ahli dari jenis yang baru untuk menangani dan mengelolanya.

  1. Pendekatan Nilai Imbalan (Rate of Return Aproach)

Dalam pendekatan ini dipertimbangkan penentuan besarnya investasi dalam dunia pendidikan sesuai dengan hasil, keuntungan atau efektifitas yang akan diperolehnya. Dalam hal ini bukan hanya biaya keseluruhan pendidikan tetapi juga biaya biaya sesuatu jenjang dan jenis pendidikan selalu dibandingkan dengan nilai hasil, seperti misalnya kenaikan pendapatan atau kenaikan produktifitas  dari pada orang-orang yang sudah memperoleh pendidikan. Tugas perencanaan adalah menghindarkan investasi (disetiap jenis dan jenjang pendidikan) yang tidak memberikan hasil yang sepadan. Pendekatan seperti ini mempunyai harapan bahwa kegiatan pendidikan yang tidak produktif dapat ditiadakan melalui proses pendekatan melalui pendekatan efesiensi investasi atau nilai imbalan ini.

  1. Pendekatan Sistem

Tipe-tipe Perencanaan

  1. Jenis  perencanaan ditinjau dari segi waktu dapat dibagi menjadi  3 yaitu :
    • Perencanaan jangka panjang (minimum 10 Tahun)
    • Perencanaan jangka menengah (diatas 1 Tahun sampai 5 Tahun)
    • Perencanaan jangka pendek (maksimum untuk 1 Tahun)

Ketiga tipe perencanaan ini berkaitan satu sama lain. Perencanaan jangka panjang menjadi induk dari kedua tipe yang lainnya. Perencanaan jangka menengah menjadi sumber dari perencanaan jangka pendek. Dengan kata lain perencanaan jangka pendek harus dijabarkan dari perencanaan jangka menengah dan jangka panjang. Ketiga perencanaan itu tidak boleh terpisah satu sama lain atau berdiri sendiri-sendiri.

Karena itu isi perencanaan jangka panjang masih bersifat umum, fleksibel sekali. Sebaliknya isi perencanaan jangka pendek sudah spesifik dan perencanaan jangka jangka menengah ada ditengah-tengah.

2.   Jenis perencanaan dari segi  ruang lingkupnya ada 3 yaitu :

  • Perencanaan makro ; adalah perencanaan yang mencakup pendidikan secara menyeluruh dari bangsa Indonesia (Nasional). Misalnya perencanaan tentang model penerimaan siwa/mahasiswa baru, sebab berlaku diseluruh tanah air. Begitu pula perencanaan inti kurikulum SMA dan lain-lain.
  • Perencanaan meso ; Perencanaan yang ruang lingkupnya mencakup wilayah pendidikan tertentu,(Regional) misalnya satu provinsi. Contohnya bidang pendidikan dasar dan menengah pada umumnya diprakarsai oleh kepala kantor wilayah (Diknas Provinsi)
  • Perencanaan mikro ; Diprakarsai oleh lembaga-lembaga pendidikan masing-masing. Misalnya perencanaan pendidikan ditingkat sekolah dan lain-lain.

3..Ditinjau dari segi sifatnya dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Perencanaan strategi
  • Perencanaan operasional

Setiap kegiatan pendidikan memiliki strategi, yaitu pertimbangan-pertimbangan-pertimbangan, perbandingan dengan kegiatan lain, kebijakan yang perlu dilakukan, dan pendekatan yang terbaik agar tujuan yang diinginkan  tepat dan bisa dicapai. Begitu pula dengan kegiatan perencanaan pendidikan membutuhkan strategi sebelum perencanaan itu dikembangkan lebih lanjut secara operasional. Dengan kata lain tujuan selalu sinkron dengan dengan kebijakan umum.

Perencanaan strategi berkaitan dengan kebijakan yang diambil pendekatann yang dipakai, kebutuhan, misi, dan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan perencanaan operasional berkaitan dengan usaha yang dipakai untuk merealisasi perencanaan strategi. Jadi satu perencanaan pendidikan memiliki dua sifat yaitu sifat strategi dan sifat operasional terutama untuk perencanaan jangka pendek. Untuk perencanaan jangka panjang hanya memiliki sifat strategi saja. Perencanaan strategi pada hakikatnya adalah proses melahirkan tujuan ideal, tujuan yang dapat dilaksanakan dan kebijakan. Perencanaan strategi bertugas mendefinisikan tujuan yang ideal dan tujuan dan tujuan yang bisa dilaksanakan itu. Sementara itu perencanaan operasional bertugas menterjemahkan kedua macam tujuan tadi bersama kebijakannya kedalam metode, prosedur, dan koordinasi, agar tujuan tadi dapat direalisasi.

Perencanaan strategi dimulai dari mencari informasi, menganalisa,menyeleksi sampai dengan membentuk program untuk jangka panjang yang sumber-sumbernya belum jelas adalah lebih sulit dari pada membuat rencana operasional untuk jangka pendek yang hanya melaksanakan program dengan sumber-sumber yang sudah jelas.

Selain tujuan yang harus dijelaskan dalam perencanaaan strategi, ia juga diminta untuk memberi alasan atau rasional mengapa program seperti itu yang dipilih untuk menyongsong perubahan dan menyelesaikan masalah atau mengapa harus misi itu yang dipikul. Perencanaan ini dengan misinya harus juga menjelaskan kondisi tempat perencanaan itu, bagaiman persyaratan fasilitasnya, dan criteria hasil yang bagaimana yang diinginkan. Contoh pembuatan perencanaan strategi untuk meningkatkan hasil belajar matematika misalnya adalah atas dasar prestasi para siswa yasng masih rendah. Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah fasilitas belajar yang memadai, lingkungan belajar yang kondusif, orang tua memberi layanan yang poistif dan guru-guru tidak mengenal putus asa/sabar. Yang mengejakan pekerjaan itu ialah para guru matematka dengan metode belajr-mengajar yang tepat. Dan kriteria hasil belajar yang dinginkan ialah prestasi rata-rata 70 dengan tidak ada yang mendapat skor dibawah 40 dalam skala skor 0-100.

Contoh perencanaan strategi Dep diknas tahun 2005-2009 “ Meletakkan kerangka dasar dan arah kebijakan pembangunan pendidikan nasional yang mengacu pada UUD’ 45 dan UU 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional”.

  1. Ditinjau dari segi obyeknya dibagi menjadi :
    1. Perencanaan pembangunan /Fisik (sarana dan prasarana)
    2. Perencanaan Rutin /Non fisik (kegiatan pelatihan dan lain-lain)

5.

5 Ditinjau dari segi asli atau tidak obyeknya yang direncanakan, maka perencanaan dapat dibagi menjadi :

  • Perencanaan pengembangan
  • Perencanaan perbaikan

Perencanaan pengembangan adalah bermaksud mengembangkan suatu lembaga pendidikan sehingga menjadi lengkap. Dalam hal ini pada lembaga itu akan muncul suatu unit kerja baru. Unit kerja inilah merupakan obyek asli yang dihasilkan oleh perencanaan pengembangan tersebut. Sementara itu perencanaan perbaikan adalah usaha memperbaiki salah satu unit kerja yang sudah ada pada suatu lembaga pendidikan, unit kerja itu di tingkatkan produktifitasnya baik kualitas maupun kuantitasnya. Untuk keperluan ini di butuhkan suatu perencanaan. Perencanaan perbaikan adalah suatu perencanaan untuk memperbaiki atau menigkatkan keadaan sesuatu yang sudah ada. Misalnya memperbaiki cara pemakainan keuangan, meningkatkan layanan terhadap para siswa, meningkatkan kegiatanterhadap laboratorium dan sebagainya.

Contoh Perencanaan pengenbangan : Program master dalam manajemen dan supervise pendidikan. Program ini merupakan suatu yang baru yang akan diselenggarakan oleh suatu lembaga pendidikan tinggi  misalnya IKIP Surabaya. program master ini yang memberikan hal-hal yang berkaitan dengan manajemen dan supervise pendidikan bermaksud memberi layanan kepada pengembangan profesi kepala sekolah dan para supervisor yang seharusnya terus ditingkatkan agar lebih mampu mengadapi tantangan zaman. Program ini juga merupakan tempat menyiapkan calon-calon kepala sekolah dan supervisor sebagai tempat untuk menempa mereka agar lebih siap pakai, lebih paham dan lebih trampil menghadapi dunia baru sebelum mereka menduduki jabatan kepala sekolah atau supervisor.

Contoh  Perencanaan perbaikan : Perencanaan perbaikan yang dapat terjadi dalam lembaga pendidikan yaitu meningkatkan sikap siswa terhadap pelajaran matematika. Sudah menjadi kenyataan pada umumnya para siswa memandang pelajaran matematika sebagai salah satu pelajaran yang sukar seperti halnya pelajaran fisika. Hal ini terbukti pada sulitnya siswa mendapatkan nilai yang baik pada ujian semester. Dengan meningkatkan sikap terhadap pelajaran itu diharapkan nilai mereka akan meningkat pula.

Perencanaan Budget

Ada sembilan kategori pembelalanjaan dalam organisasi pendidikan baik untuk kegiatan rutin maupun untuk kegiatan pembangunan

Kesembilan pembelanjaan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Dana cadangan untuk keperluan-keperluan khusus misalnya ; dana sosial, untuk menerima tamu dan lain-lain.
  2. dana untuk membeli barang-barang untuk kesejahteraan para pegawai termasuk gaji.
  3. belanja untuk melaksanakan tugas oleh para petugas pendidikan seperti barang habis dipakai pada waktu mengajar misalnya kapur tulis, spidol dan lain-lain.
  4. belanja untuk keperluan berbagai fungsi seperti bagaian pengadaan media, berbagi macam layanan , komunikasi, dan sebgainya.
  5. Belanja untuk fasilitas seperti air ,lampu, sanitasi, pertanian sekolah, sanggar seni dan sebagainya.
  6. belanja untuk program, misalnya program untuk bimbingan dan konseling membutuhkan psikiater dari lembaga lain, untuk perguruan tinggi membutuhkan dosen tamu dari lembaga lain, program karya wisata, dan sebagainya.
  7. Pajak tahunan.
  8. Belanja untuk keperluan lembaga seperti perbaikan dan pengembangan kurikulum
  9. Dana untuk proyek-proyek seperti kontrak-kontrak dengan  orang luar membeli alat-alat konstruksinya dan sebagainya.

Setiap perencanaan budget harus memperhatikan kesembilan macam pembelanjaan tersebut diatas. Dan harus dialokasikan secara adil. Yang dimaksuk secara adil disini bukan merata persis sama besar dana yang diterima oleh masing-masing kategori itu melainkan adil sesuai dengan kebutuhan.

Jenis-jenis Perencanaan Budget.

Ada beberapa jenis perencanaan budget. Tiga diantaranya yang terkenal ialah :

  1. lini Item Budget (anggaran butir perbutir)

perencanaan budget lini item ini sering disebut sebagi perencanaan budget secara tradisional, karena modelnya sangat sederhana dan muncul pertama kali. Prosesnya sederhana sekali yaitu pertama para perencana mengidentifikasi macam program yang akan dibiayai, misalnya pada program rutin, program pembangunan dan mungkin masih ada juga program istimewa dan sebagainya. Kemudian pada masing-masing program ditentukan lebih lanjut program-program yang ada didalamnya. Misalnya program –program rutin didalamnya ada program untuk kesejahteraan pegawai, pengadaan media, dan lai-lain.

Sesudah jelas program-program itu, kini masing-masing program ditentukan biayanya. Mengalokasikan biaya pada setiap program diusahakan secara adil dan merata sesuai dengan kebutuhan dan prioritas program. Perencanaan budget sampai disini sudah selesai.

  1. PBBS (planning programing budgeting system) atau sistem perencanaan penyusunan program dan  penganggaran (Sp 4).

PBBS atau SP-4  ialah suatu perorganisasian yang sistematis analitis, dan informasi keuangan yang terintegrasi kedalam semua program yang direncanakan, di implementasikan, dan dievaluasi untuk menolong melakukan alokasi sumber pendidikan ternasuk pembiayaan.

Faktor-faktor yang ditekankan oleh perencana yang menggunakan jenis perencanaan PBBS ini ialah :

  • Berorintasi pada output atau efektifitas.
  • Dana dialokasikan pada setiap program yang akan dikerjakan disusun secara analitis dan sistematis.
  • Pembiayaan bersifat integrasi.
  • Alokasi dana di susun atas dasar realiatas.
  • Pengalokasian dana dibuat sedekian rupa sehingga dan dapat dimanfaatkan secara efesien.
  1. ZBB (Zero Base Budgeting)

Akibat kekurangan yang ada pada PPBS atau SP-4 maka muncullah konsep lain dalam perencanaan budget yang disebut ZBB. Konsep barudidasi pada pendekatan “ground up” yaitu semua program harus ditinjau kembali pada proses budgeting setiap tahun.

Perbedaan utama antara PBBS dengan ZBB adalah dalam penentuan waktu berlakunya perencanaan budget dan dalam pemberian tambahan budget. Kalu dalam PBBS waktu pembiayaan lebih dari satu tahun, beberapa tahun, bahkan dapat dalam waktu yang panjang, maka dalam ZBB hanya untuk satu tahun anggaran. Begitupula dalam PBBS penambahan budget diberikan pada tahun-tahun berikutnya atas dasar pengalaman tahun yang lalu. Prioritas program dan kebutuhan maka dalam ZBB penambahan budget dilakukan pada saat perencanaan budget diadakan pada biaya-biaya minimum untuk setiap program atas dasar pertimbangan-pertimbasngan tertentu.

Ini berarti menurut konsep ZBB budget untuk tahun berikutnya adalah nol. Dengan kata lain setiap tahun anggaran dimulai selalu menentukan anggaran belanja yang baru, walaupun untuk meneruskan program atau kegiatan pendidikan yang sama dengan tahun lalu. Pada setiap memulai budget baru, pertama kali ditentukan biaya minimum untuk setiap program yang dikatakan sebagai biaya dasar. Kemudian setiap biaya dasar diberi biaya tambahan yang disebut increment. Masing-masing biaya dasar dengan incrementnya untuk suatu program di revue dan diberi prioritas sesudah itu barulah budget disyahkan.

Syukran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: